Teori Kuno Tentang Pasang Surut Air Laut

Teori Kuno Pasang Surut Air Laut

Fenomena pasang surut air laut (ocean tide) ditandai dengan naik turunnya badan air laut  terhadap daratan yang terjadi dua kali dalam setiap periode 24 jam. Menurut teori, adanya tarikan gravitasi Bulan dan Matahari di lautan dan danau besar menyebabkan terjadinya pasang surut.

Teori Kuno Pasang Surut Air Laut

Teori Kuno Pasang Surut Air Laut

Sejak masa lampau, fenomena terjadinya pasang surut air laut ini sudah diteliti, dibicarakan oleh banyak ahli pada waktu itu, sehingga muncul teori-teori pasang surut air laut.

Beberapa pendapat dan teori kuno yang berkaitan dengan pasang surut air laut, antara lain:

Filsuf Cina dan Eropa kuno berteori bahwa pasang surut air laut disebabkan Bumi menghirup dan menghembuskan air.

Masyarakat Hawaii kuno menyebut fenomena pasang surut laut sebagai “Kalender bulan” untuk memetakan pasang surut dan menghubungkannya dengan penangkapan ikan dan panen pertanian.

Sebagian besar ilmuwan kuno, termasuk filsuf Yunani Aristoteles (384–322 SM), tidak berbicara lebih spesifik tentang pasang surut.

Orang Mesir, Yunani, dan Romawi Kuno yang tinggal di Laut Mediterania memiliki pendapat tentang pasang surut, namun relatif tidak signifikan.

John, Kepala Biara Wallingford,(meninggal pada tahun 1213) diduga menulis peta pasang surut Eropa tertua. Satu entri memprediksi jam air tinggi di Jembatan London (“flod at london brigge”) di Sungai Thames . Penjelasan ilmiah tentang bagaimana pasang surut bekerja dan mengapa itu terjadi, bagaimanapun, adalah penemuan yang relatif baru.

Teori gravitasi Isaac Newton adalah dasar untuk memahami pasang surut. Isaac Newton(1642-1727), matematikawan dan fisikawan Inggris abad ketujuh belas, berteori bahwa semua benda mengerahkan gaya tarik menarik, yang disebut gravitasi, pada benda lain. Kekuatan tarikan gravitasi antara benda-benda tergantung pada ukuran relatif mereka dan jarak di antara mereka. Tarikan gravitasi bumi membuat Bulan tetap mengorbit di sekitar planet.

Ide Newton kemudian diterapkan pada penjelasan pasang surut oleh matematikawan Prancis Pierre Simon Laplace (1749–1827), dan fisikawan Irlandia William Thomson (1824–1907), yang juga dikenal sebagai Lord Kelvin.

Bagaimanapun juga, manusia dalam masyarakat maritim (pelayaran dan pesisir) selalu mengenali dan mengukur pola harian, bulanan, dan tahunan naik turunnya permukaan air di sepanjang garis pantai.

Navigasi, konstruksi, dan penangkapan ikan di daerah pesisir membutuhkan pengetahuan yang tepat tentang pasang surut lokal, dan prediksi pasang surut adalah ilmu kuno.

Pada laman www.lenteraonline.com disebutkan bahwa waktu kedatangan dan ketinggian pasang surut berubah setiap hari dan mengikuti pola hari, bulan, dan musim. Bentuk garis pantai, kedalaman air, bentuk dasar laut, cuaca, dan faktor lokal lainnya mempengaruhi ketinggian dan waktu tiba pasang surut di lokasi tertentu.

 

Teori Kuno Tentang Pasang Surut Air Laut

You May Also Like

About the Author: Kanal Info

Sekadar berbagi informasi dan pengetahuan sekitar kita secara singkat dan sederhana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *