Rabu, 13 Mei 2015

Konsep Superblok Dalam Pengembangan Tata Kota

Konsep Superblok awalnya muncul dari ide para developer gerakan arsitektur dan urban planning modern. Superblok memaksimalkan fungsi pada lahan yang terbatas dan merupakan salah satu solusi dalam mengembangkan tata kota dengan lebih efisien. Konsep penataan ruang kota dengan semua fungsi pemenuhan kebutuhan manusia disediakan dalam satu kawasan yang kecil.

Di dalam konsep superblok, suatu lingkungan binaan dalam upaya menciptakan kualitas kota yang lebih baik dapat diwujudkan melalui suatu proses perencanaan yang terintegrasi dimana semua fungsi dan pengelolaan dari kawasan yang direncanakan dijadikan sebagai sebuah kesatuan yang besar dan tunggal. Dalam sudut pandang ini, suatu superblok mempunyai peran yang penting dalam meningkatkan mutu lingkungan perkotaan di dalam kawasannya, juga lingkungan lain di sekitar kawasannya. Superblok dapat bertindak sebagai katalisator untuk memicu perkembangan kawasan-kawasan tersebut (Poerbo, 2001).

Konsep Superblok

Seperti membuat kota sendiri, minimal dengan lahan 3 hektar, terdapat fungsi permukiman, perdagangan, pendidikan, jasa, rekreasi dan fungsi-fungsi lainnya dalam lahan yang terbatas tersebut. Jadi kita tidak perlu melakukan kegiatan mobilisasi yang tinggi dalam memenuhi kebutuhan hidup dan dapat berbagi bahagia bersama. Bekerja, sekolah, belanja dapat dilakukan dalam kawasan kecil ini, yang disebut dengan superblock. 

Dengan demikian diharapkan dapat menghemat energy dan waktu yang selama ini bayak di habiskan untuk kegiatan mobilisasi, dari rumah ke tempat kerja, sekolah, pasar, dan sebaliknya. Contoh-contoh superblok ini biasanya akan banyak ditemui pada wilayah yang sudah padat penduduk. Di Jakarta misalnya, akan banyak ditemui “kota-kota kecil” di dalamnya, misalnya Kuningan City Jakarta, Podomoro City, Bassuracity, dll.

Konsep awal superblock

Superblok mulai dikembangkan sejak awal abad ke-19, yaitu dengan konsep dasar adalah mengatasi kemacetan dan kepadatan lalu lintas. LeCorbusier, seorang arsitek dan urbanis beraliran sentries yang mengemukakan awal konsep superblok. Pada tahun 1935, Le Corbusier mengembangkan konsep superblok pada La Ville Radieuse atau Radiant City, yaitu merupakan sebuah rancangan kota dengan model practical dan menggunakan analogi City as machine yang terdiri dari komponen-komponen dengan fungsi yang jelas dan saling terkait untuk menghasilkan suatu kinerja tertentu.

Rancangan ini diusulkan untuk dibangun di pusat kota Paris, untuk meningkatkan kapasitas perkotaan dalam rangka memperbaiki kualitas lingkungan dan efisiensi kota (kostof, 1991 ; Breheny, 1996). Namun gagasan ini memang tidak pernah direalisasikan, akan tetapi konsep ini telah mengilhami dan menginspirasi pengembangan dan perkembangan superblok lain di berbagai kota dan Negara.


Konsep Superblok - Kanal Informasi