Perkembangan Perpustakaan di Indonesia

Kepustakaan atau koleksi buku perpustakaan sudah di kenal bangsa Indonesia sejak zaman perkembangan kebudayaan Hindu Indonesia, seperti di Sriwijaya, Kediri, Majapahit dan kemudian di Bali. Dalam zaman perkembangan Islam banyak pula terdapat “perpustakaan-perpustakaan” di mesjid-mesjid seperti di Aceh dan lain-lain. Kebiasaaan mengadakan koleksi perpustakaan tersebut diteruskan oleh raja-raja di kemudian hari, seperti misalnya perpustakaan Radyapustaka di Sala, Reksapustaka di Mangkunegaran, Sanabudaya di Yogyakarta dan lain-lain.

Perkembangan Perpustakaan di Indonesia

Perkembangan Perpustakaan di Indonesia

Perpustakaan dalam arti yang sebenarnya yaitu koleksi bahan pustaka yang dikelola secara sistematis, baru dikenal di Indonesia sekitar abad ke-19 ketika pemerintah penjajahan Belanda melaksanakan apa yang dikenal dengan istilah ethische politiek atau “politik balas budhi “.

Dalam sejarah perpustakaan di Indonesia, tercatat pada tahun 1778 berdirilah perpustakaan yang dianggap perpustakaan tertua di Indonesia , yakni Perpustakaan Museum Pusat. Perpustakaan tersebut didirikan oleh suatu yayasan bernama Bataviasch Genootschap voor Kunsten en Wetenschappen. Koleksi perpustakaan tersebut disimpan di Perpustakaan Nasional RI.

Dalam abad ke-19 pelbagai departemen berusaha mendirikan perpustakaan seperti Bibliotheca Bogoriensis pada tahun 1942. Saat ini Bibliotheca Bogoriensis diintergrasi dalam Perpustakaan Pusat Biologi dan Pertanian di Bogor. Perpustakaan pada Lembaga Meteorologi dan Geofisika didirikan dalam tahun 1866, sedang Bosscha Observatorium diresmikan pada tahun 1920.

Dalam penggolongan jenis, perpustakaan-perpustakaan khusus, yang berfungsi sebagai sarana untuk meningkatkan pelaksanaan tugas suatu departemen atau perusahaan. Perpustakaan Umum baru dirintis setelah berdirinya Balai Pustaka pada tahun 1922. Balai Pustaka sejak itu mulai menerbitkan buku-buku tentang ceritera-ceritera rakyat, yang kemudian disebarluaskan ke balai-balai bacaan umum di kota-kota besar dan di sekolah-sekolah dasar angka 2.

Di dalam kurun waktu penjajahan Jepang (1042-1945) perpustakaan-perpustakaan ditutup dan dilarang mengadakan kegiatan pelayanan.

Di alam Indonesia Merdeka usaha pengembangan perpustakaan dimulai dengan didirikannya Yayasan Hatta, yang antara lain mengemban tugas untuk mempersiapkan berdirinya Perpustakaan Nasional. Pada tahun 1952 Pemerintah Indonesia menerima dari Badan Keraja sama Kebudayaan Indonesia-Belanda; Perpustakaan Sejarah Politik dan Sosial, Koleksi perpustakaan ini telah diintegrasikan dalam Perpustakaan Nasional RI.

Mulai tahun 1953 Departemen Pendidikan dan Kebudayaan mendirikan perpustakaan-perpustakaan atau lebih tepat taman-taman bacaan rakyat (TPR) sampai ke desa-desa yang dikelola oleh Jawatan Pendidikan Masyarakat.

Di samping itu departemen tersebut mendirikan pula 4 Perpustakaan Negara, masing-masing di Yogyakarta, Ambon, Semarang dan Ujung Pandang, yang kemudian disusul dengan 15 Perpustakaan Negara lainnya, sehingga menjadi 19 buah yang berlokasi di tiap-tiap ibukota propinsi. Jumlah 19 ini dalam tahun 80-an ditingkatkan menjadi 26 dan dewasa ini semuanya diintegrasikan dalam Perpustakaan Nasional RI dengan nama Perpustakaan Daerah.

Hambatan dan Usaha Pengembangan Perpustakaan

Hambatan yang berupa kurang mantapnya organisasi dan perencanaan, tidak cukup tersedianya tenaga pustakawan terdidik, dan kurangnya dana yang disediakan mengakibatkan tersendat-sendatnya usaha pengembangan. Kegiatan pengembangan yang mantap dan terencana baru dimulai dalam Pelita II (1973-1978).

Tujuan pengembangan dan pembinaan perpustakaan ditegaskan melalui keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 0103/0/1981 adalah bagi terbentuknya “suatu sistem nasional perpustakaan serta pendayagunaannya, demi terwujudnya masyarakat Indonesia yang senang membaca dan belajar seumur hidupnya untuk meningkatkan pengetahuan, ketrampilan dan produktivitas dalam pembangunan bangsa dan negara” .

Usaha pengembangan dan pembinaan tersebut mencakup pengembangan dan pembinaan semua aspek pada perpustakaan termasuk bangunan, koleksi, sistem pelayanan dan pembiayaan.

Menurut laman Lenterakecil.xyz, seperti halnya dengan ilmu pengetahuan yang lain, ilmu perpustakaan juga merupakan suatu sistem yang terdiri dari pelbagai pengetahuan sebagai subsistem , yang menguasai bidang tertentu dan disusun menurut asas dan kaidah-kaidah ilmiah menjadi satu kesatuan ilmu .

Dalam bagian akhir tulisan ini, setelah menyimak selayang pandang perkembangan perpustakaan di tanah air kita, Indonesia, dapat sebagai bahan perbandingan dan sekaligus untuk mendorong kegiatan peningkatan di masa mendatang.

 

Perkembangan Perpustakaan di Indonesia

Memuat...

You May Also Like

About the Author: Kanal Info

Sekadar berbagi informasi dan pengetahuan sekitar kita secara singkat dan sederhana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *