Selasa, 22 Oktober 2013

Metode Sekolah Montessori

Sekolah Montessori mempunyai metode pembelajaran yang berbeda dari metode konvensional. Metode Montessori adalah suatu metode pendidikan untuk anak-anak, mulai bayi hingga tumbuh kembang mencapai usia sekolah kelas 6, berdasar pada teori perkembangan anak dari Dr. Maria Montessori, dokter, guru serta pendidik berkebangsaan Italia di akhir abad 19 dan awal abad 20. Metode ini diterapkan terutama di pra-sekolah dan sekolah dasar, walaupun ada juga penerapannya bisa sampai jenjang pendidikan menengah.

Metode Sekolah Montessori
Dr. Maria Montessori
Ciri dari metode ini adalah penekanan pada aktivitas pengarahan diri pada anak dan pengamatan klinis dari pembimbing (guru). Metode ini menekankan pentingnya penyesuaian dari lingkungan belajar anak dengan tingkat perkembangannya, dan peran aktivitas fisik dalam menyerap konsep akademis dan keterampilan praktik. Ciri lainnya adalah adanya penggunaan peralatan otodidak (koreksi diri) untuk memperkenalkan berbagai konsep.

Dalam proses belajar, hal yang harus diutamakan adalah bagaimana anak dapat menyesuaikan diri terhadap lingkungan dan rangsangan yang ada sehingga terdapat reaksi yang muncul dari anak. Reaksi yang dilakukan merupakan usaha untuk menciptakan kegiatan belajar sekaligus menyelesaikannya. Sehingga nantinya akan mendapatkan hasil yang mengakibatkan perubahan pada anak sebagai hal baru serta menambah pengetahuan.

Metoda sekolah Montessori menggunakan filosofi:

  • Filosofi bahwa anak adalah individu yang unik dan mempunyai talenta serta cara kerja yang tidak sama satu dan lainnya.
  • Filosofi bahwa anak lebih suka berkarya atau bekerja daripada bermain. Kata yang digunakan adalah “work” rather than “play”.
  • Filosofi bahwa dunia Montessori adalah dunia yang rapi teratur, bersih, beres, dan organized


Metode sekolah Montessori mempunyai pengaruh terhadap perkembangan:
1. Kognitif. Melalui alat yang digunakan 
  • Menghasilkan: Memori/Ingatan, khayalan
  • Digunakan: Memecahkan masalah à memori, khayalan + berpikir logis 

2. Afektif (emosi). Berhadapan dengan emosi anak: 
  • Tidak boleh dipaksa.
  • Proses pendidikan harus dengan kemauan anak sendiri.
  • Anak harus merasa senang dalam belajar. 

3. Psikomotor. Melalui alat yang digunakan anak harus melakukan / berkinestetik untuk memecahkan masalah yang ada. 

Beberapa tokoh lulusan sekolah Montessori, antara lain:

Larry Page dan Sergey Brin, Pendiri Google.com, Jeff Bezos dari Amazon.com, Alice Waters, Friedrich Hundertwasser, Julia Child, Gabriel Garcia Marquez, Helen Keller, Alexander Graham Bell, Thomas Edison, Henry Ford, Mahatma Gandhi, Sigmund Freud, Buckminster Fuller, Leo Tolstoy, Burtrand Russell, Jean Piaget, Erik Erikson, John Holt, Ann Frank, Dalai Lama, Jacqueline Kennedy, Pangeran William dan Pangeran Harry dari keluarga kerajaan Inggris, Cher Bono, Yul Brynner, Bill dan Hillary Clinton, dan Yo Yo Ma.